Di Publish Pada Tanggal : Minggu, 06 September 2015 15:50 WIB

Kalau Cuma Bagi Sembako, Tak Perlu Jokowi Jadi Presiden

Jakarta, HanTer - Akhir -akhir ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengulangi aksi blusukannya seperti ketika ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan membagi-bagi sembako ke warga-warga kampung di sela-sela kunjungan kerjanya. Hal itu perlu di kritisi, karena tradisi ini tidak elok diteruskan dan dipertontonkan ke publik.

"Sangat berbahaya kalau presiden yang langsung bagi-bagi sembako ke warga. Kalau cuma bagi-bagi sembako, siapa pun pasti bisa. Tidak harus menjadi presiden saya kira," kata Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago saat dihubungi, Minggu (6/9/2015).

Menurutnya, presiden harus memikirkan dan berbuat yang jauh lebih luas dan lebih besar manfaatnya bagi negara guna membahagiakan penduduknya. "Bagi-bagi sembako adalah tradisi yang tak baik diteruskan dan dipertahankan. Lama-lama masyarakat akan terbiasa dan berubah menjadi 'habbit' menjadi bangsa pengemis. Bukan kah tangan di atas tentu jauh lebih baik dari tangan di bawah," ujarnya.

Ipang sapaan akrab Pangi Syarwi Chaniago ini melanjutkan, aktifitas bagi-bagi sembako disetiap kali kunjungan presiden, jelas merusak revolusi mental. Rakyat kita tidak boleh dibiasakan menjadi mental cengeng, pragmatis dan pengemis. "Tidak perlu presiden mempertontonkan setiap kunjugannnya warga berebut sembako. Ini bukan sebuah kegembiraan namun sebuah musibah yang bertentangan dengan nawacita dan revolusi mental," sesalnya.

Acara jamuan makan siang ke istana yan mengundang rakyat kecil, komunitas tukang ojek, komunitas pedagang kaki lima dan lain sebagainya yang dilaksanakan presiden Jokowi, menurutnya positif dan mesti di apreasiasi dan di dukung bersama yang bisa mendekatkan presiden dengan rakyat. Bahkan, sepengetahuan dirinya belum pernah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya yang mengundang rakyat biasa ke Istana.

"Kita sepakat poin yang satu ini bahwa rakyat ngak boleh dijauhkan dari presiden, sehingga dengan harapan presiden mendengar langsung apa yang menjadi harapan, keluhan dan masalah rakyat selama ini, komunikasi antara presiden dengan masyarakat menjadi semakin bagus," tuturnya.

Disatu sisi, tegasnya, jangan sampai kesan publik bahwa kegiatan bagi bagi sembako adalah pencitraan agar rakyat tidak marah di tengah perekonomian yang melemah saat ini. Pada suatu sisi kegiatan bagi bagi sembako menunjukkan presiden peduli dengan rakyatnya, namun di sisi lain kegiatan tersebut bertujuan menutupi kelemahannya selama menjadi presiden

"Sangat disayangkan sudah tidak banyak lagi pengamat yang kritis, siap memuji keberhasilan pemerintahan dan siap juga mengkritisi kebijakan yang semakin hari semakin membodohi rakyat," pungkasnya.

Kemensos

Senada, Ketua Komisi VIII DPR Saleh Partaonan Daulay berpandangan, sudah menjadi tugas yang diamanatkan konstitusi agar pemerintah memperhatikan fakir miskin dan orang-orang terlantar, dimana tugas seperti itu sudah menjadi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kementerian Sosial (Kemensos). Sebab itu, dia meminta presiden sebaiknya mempercayakan pada Kemensos untuk mengurus rakyat yang kebetulan masih termarginalkan secara ekonomi.

"Menteri sosialnya kan sudah sangat aktif. Program Kemensos juga berjalan tanpa kendala. Karena itu, presiden semestinya sudah cukup mempercayakannya pada Kemensos," kata Saleh Daulay.

Menurutnya, tugas presiden dinilai sangat banyak. Di saat krisis seperti ini, stabilitas ekonomi dan politik sangat penting dilakukan. Apalagi, kepentingan nasional bisa terancam di tengah himpitan masalah ekonomi global. "Presiden tentu lebih tepat berbuat bila menjadikan stabilitas ekonomi dan politik sebagai prioritas. Urusan teknis pembagian sembako, cukup dikoordinasikan dengan kementerian terkait termasuk pembagian kartu-kartu sakti yang masih terus dilakukan," ujarnya.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menambahkan, pembagian kartu dan program sosial lainnya adalah janji Jokowi pada masa kampanye Pilpres 2014 silam. "Jadi, kalaupun itu dibagikan oleh kementerian/lembaga terkait, masyarakat sudah pasti tahu bahwa itu adalah implementasi janji kampanye Jokowi," pungkasnya.


(Robbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats