Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 08 Desember 2016 11:44 WIB

Berambisi Kuasai Dunia: Waspada, China `Rebut` Indonesia

Jakarta, HanTer - Isu ekspansi China terhadap ekonomi dan politik Indonesia, semakin nyaring terdengar di publik, bahkan disebut-sebut sudah menjadi ancaman nyata. Apalagi, berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo dinilai memberi peluang kepada negeri Tirai Bambu itu untuk ’menguasai’ Indonesia. Maka, setelah ‘menguasai‘ Indonesia, China secara otomatis akan ‘menguasai’ dunia. Seluruh anak bangsa diminta mewaspadainya.

Sejumlah kalangan menduga, keinginan China ‘menguasai’ ekonomi Indonesia, kini sudah menjadi ancaman nyata. Pasalnya jika negeri itu berhasil menguasai ekonomi Indonesia, peluang mereka untuk menguasai dunia akan terbuka lebar. Itulah sebabnya, berbagai cara dilakukan negeri itu agar bisa menanamkan pengaruhnya di Indonesia. Apalagi berbagai kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah mendukung agar Rupiah berpatokan pada Yuan dan tidak lagi kepada Dolar.

Dengan kekuatan ekonomi yang dominan itu, kata Direktur Institute Soekarno-Hatta, Hatta Taliwang, maka ada kekhawatiran China akan mengakuisisi atau menguasai Indonesia secara mutlak. Bahkan sejumlah tokoh keturunan ditengarai sudah mempunyai ambisi untuk menguasai politik Indonesia.

“Secara informal, bahkan mereka sudah mengatur kekuasaan dari belakang layar terutama sejak Orba dan semakin menjadi lebih kuat sejak era Reformasi. Siapa yang jamin dalam beberapa tahun ke depan terjadi politik apartheid atau penjahahan oleh China terhadap Indonesia,” kata Hatta dihubungi, Rabu (7/12/2016).

Pengamat kebijakan Yusri Usman membenarkan 1000 persen jika China berhasil menguasai ekonomi Indonesia maka peluang menguasai dunia akan terbuka lebar. Oleh karena itu berbagai cara dilakukan agar bisa menanamkan pengaruhnya di Indonesia. Saat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah mendukung agar Rupiah berpatokan pada Yuan dan tidak lagi kepada Dolar.

"Jokowi pernah mengatakan bahwa Rupiah jangan dikaitkan dengan USD lagi tetapi dengan Yuan. Alasannya,  transaksi perdagangan lebih tinggi dengan China ketimbang Amerika dan hampir 70 persen investasi infrastruktur dikerjakan oleh China," ujar Yusri Usman kepada Harian Terbit, Rabu (7/12/2016).

Menurut Yusri, agar China tidak menguasai Indonesia maka pemerintah harus berusaha membangun dengan prosentasi modal sendiri tanpa harus mengejar pinjaman luar negeri. Selain itu, proses penegakan hukum juga harus tanpa tebang pilih khususnya dalam kasus korupsi.

"Semua proses tatakelola di kementerian juga harus transparan dan efisien. Semua proses bisnis di BUMN, intervensi kekuasaan eksekutif dan legislatif juga harus diminimalkan," tegasnya.

Sementara itu Ketua Umum Badan Relawan Nuantara (BRN), Edysa Tarigan Girsang mengatakan, saat ini bukan hanya China tapi hampir semua negara ingin kuasai Indonesia. Karena saat ini hampir semua negara mengalami kesulitan sumber mentah energi. Namun Indonesia justru memiliki sumber energi yang berlimpah.

Penjajahan

Senada dengan Ridwan, pengamat kebijakan publik dari Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah mengatakan, pemerintah Indonesia harus berkaca pada kasus penjajahan Cina atas negara Tibet.

Awalnya, kata Amir, tentara Cina datang ke Tibet dengan menyamar sebagai pekerja. Mereka kemudian membangun infrastruktur dan perekonomian Tibet.

"Namun pada akhirnya mereka menguasai Tibet mengusir pemimpin Tibet Dalai Lama. Makanya, jangan sampai ini terjadi di Indonesia," ujar Amir.

Amir menambahkan, keberadaan pulau reklamasi yang pembangunannya dimotori Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menjadi bukti agresifitas Cina untuk menguasai Indonesia.

"Nantinya, bangunan di atas Pulau reklamasi akan diperuntukkan bagi para pendatang dari Cina. Dari sanalah mereka kemudian akan menguasai nusantara," ungkapnya.


(Sammy/Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats