Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 28 Desember 2016 10:43 WIB

Tarif Listrik Mahal, Presiden: Banyak Broker dan Makelar

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuding ada andil permainan makelar terhadap tingginya tarif listrik di Tanah Air. Padahal, kata dia, tarif listrik merupakan indikator daya saing sebuah bangsa.  

“Kenapa harga kita mahal, karena banyak beban biaya yang tidak perlu, terlalu banyak orang di tengah, terlalu banyak yang broker, makelar. Jadi kenapa mereka (Malaysia) bisa, kita tidak bisa, jadi ini pasti ada sesuatu," kata Jokowi saat meresmikan PLTP Lahendong unit 5 & 6 dan PLTP Ulubelu Unit 3 di Minahasa Sulawesi Utara, Selasa (27/12/2016).  

Jokowi mendesak agar para menteri di jajarannya terus memantau pergerakan broker dan makelar tersebut. Karena hal itu merupakan faktor yang melemahkan daya saing RI, lantaran masih mahalnya tarif listrik di Indonesia. 

"Di antara bapak-bapak (direksi BUMN dan swasta) banyak tahu yang begini, berarti benar tidak? Kalau ditepuki pasti bener," kata Jokowi diiringi riuh tepuk tangan para tamu acara. 

Dengan melimpahnya sumber daya alam yang ada di Indonesia, kata Presiden, seharusnya harga listrik yang dijual lebih kompetitif dibandingkan dengan negara lain yang memiliki sumber daya minim. Apalagi, kata dia, Indonesia memiliki sungai besar seperti Mahakam, Musi, atau Bengawan Solo yang bisa dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air.

“Saya berikan contoh, misalnya, PLTA di Serawak harganya hanya dua sen, cek nanti benar enggak, di kita tujuh sen. Tenaga surya di Uni Emirat Arab di sana harganya 2,9 sen di kita 14 sen. Padahal, air kita melimpah, sungai kita melimpah," ujarnya.

Byar-Pet

Dalam kesempatan itu, mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menyinggung masih banyak kabupaten/kota di Indonesia yang listriknya masing sering byar-pet (nyala-mati). Padahal ketersediaan listrik untuk pemenuhan kebutuhan warga dan industri sangat mempengaruhi daya saing.

Menanggapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan berjanji untuk melakukan evaluasi harga listrik dalam waktu singkat. Ditargetkan, hasil evaluasi akan rampung pada Januari 2017 mendatang.  

"Harga lagi diatur lagi mudah-mudahan Januari. Akhir Januari paling lambat bisa kompetitif karena Presiden bilang harga harus kompetitif," kata Jonan.

Di samping itu, Jonan memastikan pemerintah tetap akan memberikan kemudahan bagi pihak swasta yang akan berinvestasi pada proyek infrastruktur pembangkit listrik. Salah satunya adalah insentif baru dan kemudahan perizinan. "Misal percepatan perizinan. Itu saja. Kalau jadi untungnya besar, masa untung besar dikasih insentif lagi," tuturnya.


(Harian Terbit/Antara)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats