Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 05 Januari 2017 11:20 WIB

Umat Islam Mulai Diadu Domba Oleh Oknum Pencari Keuntungan

Jakarta, HanTer - Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Dr Cholil Nafis, Lc. MA, meminta umat Islam harus bersatu sehingga tidak mudah untuk diadu domba. Belakangan ini memang ada upaya dari oknum tertentu untuk mengadu domba antar umat Islam. Sehingga berhasil memecah umat Islam maka tidak ada lagi kekuatan untuk menguasai Indonesia.

"Bagaimanapun umat Islam harus bersatu," tegas KH Dr Cholil Nafis, Lc. MA menanggapi adanya upaya mengadu domba umat Islam kepada Harian Terbit, Rabu (4/1/2017).

Menurutnya,  umat Islam yang mudah dipecahbelah karena lebih mengedepankan ego sektoral kelompoknya. Dengan mau dipecahbelah oleh oknum tertentu maka umat Islam telah lupa dengan misi besar agama Islam yakni rahmatan lilalamin untuk semua umat di dunia. Oleh karena itu umat Islam harus segera sadar untuk tidak bisa dipecahbelah oleh siapa pun.

Ketidakdewasaan

Sementara itu pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Dimas Cokro Pamungkas menyebut, umat Islam  mudah diadudomba karena adanya ketidakdewasaan. Selain itu ada oknum yang ingin meraup keuntungan dari perpecahan umat Islam. Apalagi jelang pemungutan suara di ajang Pilkada serentak di seluruh Indonesia.

"Di penghujung 2016 ini kita juga bisa melihat betapa hebohnya 'pemanasan' ajang politik 2017 di Jakarta. Mesin pemanas itu bernama Ahok," ujar Dimas.

Dimas menilai hanya berawal dari perebutan kursi DKI 1 bisa menjadi masalah nasional dan merembet di luar konteks politik, dan SARA. Semua terjadi karena ketidaksiapan semua pihak untuk meminimalisir kekacauan sehingga menjadi bola panas dan menggelinding kemana-mana, diolah sana-sini sampai tidak karu-karuan bahkan kasus ini sudah go internasional.

"Kalau tahun ini,  2017, isu SARA tidak diperhatikan, bisa jadi bom waktu yang luar biasa bagi keutuhan NKRI. Harus ada kesepakatan tegas dan dibuatkan perjanjian bahwa dalam berpolitik jangan sampai menggunakan SARA sebagai senjata," jelasnya.

Selain itu, sambung Dimas, tahun 2017 juga dibayangi dengan sekumpulan pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan Jokowi yang sah. Aksi ini dilakukan oleh pihak yang tidak puas dengan pemilu dua tahun yang lalu. Pihak-pihak yang kecewa dengan segala cara merongrong lewat massa yang bisa digerakkan. Oleh karena itu ketegasan TNI/Polri sangat dibutuhkan untuk membuat Indonesia kondusif.

Sementara itu pengamat teroris dari Institute For Security And Strategix Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, sejak Indonesia merdeka umat Islam memang tidak pernah solid.

Masyumi yang dibentuk di awal kemerdekaan pun sebagai wadah persatuan dan aspirasi umat juga mempunyai setidaknya dua faksi utama.  "Kita tarik mundur lagi. Pecahnya Syarekat Islam jadi SI Merah dan SI Putih. Itu menunjukkan dalam konteks politik, ada perbedaan-perbedaan pandangan dalam faksi-faksi Islam," ujar Khairul.


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats