Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 15 Februari 2017 10:44 WIB

IPW Minta Kapolda Metro Dibebaskan Tugaskan Terkait Kasus Antasari Azhar

Jakarta, HanTer - Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polri profesional menuntaskan kasus kematian Nazaruddin. Oleh karena itu semua penyidik yang terlibat saat menangani kasus Nazaruddin perlu dinonaktifkan dari jabatannya agar proses kasus ini tidak masuk dalam ranah konflik kepentingan.

"Selain itu proses penanganannya perlu diawasi Tim Independen mengingat banyaknya kejanggalan dalam proses pengungkapan kasus kematian Nazaruddin tersebut," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam keterangannya yang diterima Harian Terbit, Rabu (15/2/2017).

Menurut Neta, Polri harus segera mengusut laporan Antasari maupun laporan SBY agar kasus kematian Nazaruddin terang benderang, sehingga akan terungkap apakah ada unsur politis di balik kasus ini, apakah ada intervensi kekuasaan atau justru penyidik Polri yang tidak profesional.

"Bagaimana pun apa yg diungkapkan Antasari dalam kasus terbunuhnya Nazaruddin menjadi isu baru yang harus diungkapkan Polri. Seelama ini laporan Antasari soal hilangnya baju Nazaruddin dan tentang SMS palsu seperti tidak "digubris" Polri. Sehingga kasus ini tidak selesai secara tuntas dan terang benderang," ujarnya.

Terkait semua penyidik yang terlibat dalam penanganan kasus Nazaruddin segera dinonaktifkan, Neta menuturkan, hal tersebut bertujuannya agar kejanggalan-kejanggalan dalam kasus Nazaruddin bisa diungkapkan. Antara lain, sebelum dibawa ke kantor polisi, orang-orang yang disebut sebagai eksekutor dibawa kemana. Siapa pihak lain yang terlibat dalam membantu polisi saat menangkap orang-orang yang disebut sebagai eksekutor tersebut.

"Kemana hilangnya baju Nazaruddin. Kemana sopir Nazaruddin yang menjadi saksi kunci kematian itu. Kemana Rani. Kemana sepeda motor yang katanya digunakan dalam mengeksekusi Nazaruddin. Kejanggalan-kejanggalan ini perlu diungkap ulang," tegas Neta.

Neta menegaskan, pihaknya mendukung 1000 persen kasus Nazaruddin dibuka lagi. Namun pihaknya menyangsikan Polri mau memproses kasus yang diungkap Antasari ini dengan tuntas, mengingat para penyidik Polri yang menangani kasus tersebut sudah menjadi pejabat tinggi di institusinya.

Artinya jika kasus Antasari ini mau dibuka lagi maka Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan harus dinonaktifkan dari jabatannya agar tidak terjadi konflik kepentingan sebab saat itu iriawan sebagai Direskrimum yang mempimpin penanganan kasus kematian Nazaruddin dan menangkap alAntasari.

"Kunci jawaban dari apa yang dipaparkan Antasari itu tentu ada di Irjen Iriawan dan Kapolda Metro Jaya saat itu serta Kapolri waktu itu. Jika kasus ini hendak dibuka lagi para petinggi Polri itu harus diperiksa. Melihat semua itu tentu sangat mustahil untuk membuka kembali kasus kematian Nazarudin dan membuka apa yang diungkap Antasari," paparnya.

Risikonya, sambung Neta, jika Polri tidak menuntaskan kasus ini secara transparan maka Antasari harus siap menghadapi laporan SBY dengan tuduhan fitnah, pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter oleh mantan Presiden tsb. Sebagai mantan jaksa dan mantan ketua KPK, Antasari harusnya berpikir ulang untuk membuat tuduhan pada SBY karena pada dasarnya tuduhan itu akan sulit dibuktikan dan kuncinya ada di Polri yang tentunya Polri tidak akan mau memberikan kunci itu.

Sementara orang-orang yang disebutkan Antasari tentu akan membantah semua ucapan mantan ketua KPK tersebut karena tidak ada bukti yang menguatkan. Akibatnya Antasari akan terjepit sendiri karena akan dilaporkan SBY telah melakukan fitnah, dan pencemaran nama baiknya.

"Apalagi di sepanjang pemeriksaan, baik di Polri maupun di pengadilan, tidak pernah disebutkan kasus kematian Nazaruddin dan kasus penangkapan alAntasari berkaitan dengan kasus penangkapan Aulia Pohan. Bahkan di pledoinya pun Antasari tidak pernah mengungkapkan hal ini," paparnya.


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats