Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 16 Februari 2017 11:37 WIB

Tak Terima Dituduh Otak Kriminalisasi: SBY `Lancarkan` Serang Balik Untuk Antasari

SBY

Dituding sebagai otak kriminalisasi terhadap Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Presiden RI ke Enam SBY tak terima, dan menyerang balik Antasari.

Melalui Wakil Sekjen Partai Demokrat Didi Irawadi, Antasari dilaporkan ke Mabes Polri dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. "Kami sudah laporkan soal fitnah dan pencemaran nama baik," ujar Didi dikonfirmasi, Rabu (15/2/2017).

Laporan tersebut dilakukan menanggapi pernyataan Antasari melalui media massa yang mengatakan SBY sebagai pelaku kriminalisasi terhadap dirinya.

Didi yang didampingi oleh Juru Bicara Partai Demokrat Imelda Sari, enggan merinci soal laporan yang dibuatnya. "Tugas kami hanya menyampaikan laporan. Hal yang menyangkut penjelasan secara politik, Pak SBY yang menyampaikan," katanya.

Pada kesempatan berbeda Antasari Azhar menyebut SBY adalah orang yang merekayasa kasus pembunuhan Direktur Utama PT Rajawali Nasional Indonesia (RNI) Nasruddin Zulkarnaen. "Inisiator kriminalisasi terhadap saya itu SBY," kata Antasari.

Ia pun menceritakan suatu hal yang menurut dia belum pernah diungkapkannya selama bertahun-tahun.

Aulia Pohan

Antasari menyebut pada suatu malam di bulan Maret 2009, CEO MNC Group Harry Tanoe mendatangi rumahnya. Kedatangan Harry diperintahkan seseorang di Cikeas, yang meminta Antasari agar tidak menahan Aulia Pohan yang ketika itu terseret kasus korupsi.

Aulia Pohan adalah mantan deputi gubernur Bank Indonesia, yang juga  besan SBY.  "Harry diutus oleh Cikeas, beliau minta agar saya tidak menahan Aulia Pohan," ujar Antasari.

Mendengar permintaan itu, Antasari menolaknya dengan alasan hal itu melanggar standar prosedur operasi KPK. Di hadapan awak media, Antasari pun meminta SBY untuk berkata jujur perihal dugaan kriminalisasi terhadap dirinya.

"Kepada SBY, jujurlah. Beliau tahu perkara saya. Beliau perintahkan siapa untuk kriminalisasi Antasari," ujarnya.

Grasi

Sebelum melaporkan Antasari ke Bareskrim Polri, SBY menuduh grasi untuk membebaskan Antasari dari penjara bermutan politis, dan disiapkan untuk menyerang dirinya dan putranya Agus Harimurti, salah satu cagub Pilkada DKI.

Istana Kepresidenan menepis tudingan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal pemberian grasi yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada Antasari Azhar yang dianggap bermuatan politis.

"Saya ingin menegaskan bahwa Presiden itu memberikan grasi kepada Antasari Azhar sebagaimana diperintahkan di dalam konstitusi. Kalau Anda baca dalam Undang-Undang kita pasal 14, Presiden dalam memberikan grasi itu harus memperhatikan pertimbangan dari MA. Jadi prosedur itu dilalui betul oleh Presiden," kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu.

Menurut dia, Presiden sudah merujuk berbagai pertimbangan termasuk Mahkamah Agung (MA), Jaksa Agung, Kementerian Polhukam, Kementerian Hukum dan HAM, dan lain-lain.

"Jadi atas rujukan itu Presiden memberikan grasi, saya kira jangan dihubung-hubungkan ini dengan agenda apa, agenda apa, cukup ini sudah proses yang berlaku dan sebagaimana dinyatakan dalam UUD. Hanya itu saja," katanya.

Pratikno menegaskan bahwa Presiden dalam memberikan grasi tersebut sudah melalui prosedur dan jelas memperhatikan pertimbangan yang positif.


(Harian Terbit/Zamzam)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats