Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 21 Maret 2017 09:18 WIB

Cagub DKI Dekati Keluarga Soeharto: Cendana Masih Kuat dan Berpengaruh

Jakarta, HanTer - Dua paslon gubernur DKI Jakarta mendekati keluarga Cendana untuk meraup simpati. Paslon Anies - Sandi mendekati Titiek Soeharto dan akhirnya resmi memberikan dukungannya. Tidak mau kalah Paslon Ahok - Djarot juga menemui Probosutedjo, adik seibu almarhum Presiden RI kedua Soeharto. Cendana merupakan sebutan untuk Soeharto, mantan presiden RI kedua atau penguasa Orde Baru.

Pengamat politik dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, para Paslon gubernur DKI Jakarta mendekati Cendana karena orang-orang Cendana masih ada dimana-mana. Mereka  menyebar mitos soal kuasa, aset dan uang yang tidak habis-habisnya. Hal ini tentu Cendana semakin besar dan diyakini bahwa Cendana masih kuat dan berpengaruh.

"Yang dilakukan para paslon mendekati Cendana menunjukkan, upaya pemenangan membuat kita tak jarang mengesampingkan kenyataan Orba anti demokrasi," ujarnya, Senin (20/3/2017).

Khairul menyatakan, para kandidat meyakini mitos Cendana sebagai penentu kemenangan untuk meraih Jakarta 1. Yang dilakukan para paslon juga menunjukan kerinduan 'salah fokus' terhadap Orba karena Orba adalah kegagalan rezim sebagai kompleksitas persoalan yang dihadapi bangsa.

"Para paslon mendekati Cendana juga bukan hanya menunjukkan  Orba bangkit. Padahal masih ada segudang persoalan warisan Orba yang harus dibereskan. Kita lupa bahwa kompetisi yang seru dan seterbuka ini hanya mungkin terjadi di era reformasi, bukan di masa Orba," jelasnya.

Menurutnya, kampanye untuk mengingat Orba sebagai rejim anti demokrasi tidak boleh berhenti. "Harus diingat solusi untuk mengatasi kondisi bangsa ini bukan mundur ke belakang, tapi dengan secara serius melanjutkan agenda-agenda reformasi yang belum tuntas," paparnya.

Anti Demokrasi

Sementara itu pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengatakan, sah-sah saja para paslon gubernur DKI Jakarta mendekati Cendana. Namun yang harus diwaspadai adalah bila ada rezim mengadopsi faham dan idealisme Orba sebagai rejim anti demokrasi.

Menurutnya,  para paslon mendekati Cendana karena butuh dukungan. "Pasti para paslon butuh dukungan.  Dukungankan gak cuma suara tapi juga finansial," paparnya.

Terpisah, pengamat politik dari Point Indonesia (PI), Karel Harto Satrio mengatakan, salah sasaran jika para paslon mendekati Cendana. Para paslon menilai seakan akan keluarga Cendana masih mempunyai daya tarik secara politik. Padahal mendekati Cendana justru berebut ‘pepesan kosong’. "Ibaratnya para paslon berebut pepesan kosong," ujar Karel.

Karel menuturkan, dengan mendekati Cendana maka para paslon telah salah strategi. Karena masyarakat tidak banyak yang mengenal sindrom "Rindu Soeharto". Dari pada mendekati Cendana, para paslon harusnya mendekati warga secara langsung. Selain itu dekati juga para tokoh informal masyarakat yang memang sehari-hari ada di masyarakat.

"Harusnya para paslon mendekati tokoh agama di kampung-kampung karena mereka hidup bersama-sama dengan masyarakat," jelasnya.

Sebelumnya, Anies Rasyid Baswedan dan cawagubnya, Sandiaga Uno, pada Rabu malam lalu bertemu dengan Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Siti Hediati Harijadi alias Titiek Soeharto. Dalam pertemuan jamuan santap malam itu, hadir juga Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan putranya, Didiet.

Anies mengaku bersyukur mendapat dukungan dari Wakil Ketua Dewan Pakar Golkar Titiek Soeharto. "Kemarin sama sekali bukan membicarakan dukungan. Nggak pas juga ya kalau makan malam membicarakan dukungan. Nggaklah, kita ngobrol santai dan kami bersyukur bahwa saya tahu Mbak Titiek mengambil sikap mendukung kita dan kami apresiasi sekali," kata dia di Masjid Al-Ikhsan, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (24/2/2017).

Hal sama dilakukan Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dia mengunjungi rumah Probosutedjo, Rabu (15/3/2017).

Ahok membantah kehadirannya itu sebagai bentuk untuk mengimbangi pertemuan pasangan calon Gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan keluarga Cendana.

"Enggak lah. Buat imbangin? Kan sudah kenal lama, apalagi beliau sudah 87 tahun," ujar Ahok di Jalan talang Nomor 3, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, (17/3 2017).

Ahok mengemukakan kunjungannya itu untuk memenuhi undangan dari pihak Probosutedjo. Ahok menuturkan menerima undangan tersebut lantaran untuk menjenguk Probosutedjo yang sedang dalam keadaan sakit. "Ya, aku karena dia kurang sehat ya aku mampir," ujar Ahok.

Ahok menuturkan ada beberapa hal yang dibicarakan kepada Probo. Apalagi, hal tersebut dimanfaatkan oleh Ahok karena Probo dikenal merupakan kerabat Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Djoko Utomo pada 2014.

"Pak Djoko dulu bekas Kepala Arsip Nasional RI kan, bantu beliau (Probo). Saya lagi mau bicarakan dengan Pak Joko untuk mengubah diorama yang ada di Monas. Supaya bisa sampai ke masa Pak Jokowi," ujar Ahok.


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats