Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 07 April 2017 12:11 WIB

Keponakan Terlibat Proyek e-KTP, KPK Sudah Bisa Jerat Setya Novanto

Jakarta, HanTer - Irvan Hendra Pambudi Cahyo, keponakan Ketua DPR Setya Novanto disebut dalam persidangan dugaan korupsi proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (E-KTP) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (6/4/2017). Keponakan Novanto tersebut merupakan Direktur PT Murakabi Sejahtera diketahui ikut dalam pengadaan proyek E-KTP.

Dalam dakwaan Irman dan Sugiharto, disebutkan proses pelelangan proyek E-KTP akan diarahkan untuk memenangkan konsorsium Percetakan Negara RI (PNRI). Untuk itu dibentuk pula konsorsium Astagraphia dan konsorsium Murakabi Sejahtera sebagai peserta pendamping. Konsorsium Murakabi Sejahtera yang terdiri atas PT Murakabi, PT Java Trade, PT Aria Multi Graphia dan PT Stacopa.

Ketiga konsorsium tersebut dibawa atau berafiliasi dengan Andi Agustinus alias Andi Narogong dan sejumlah pertemuan untuk menyusun pengandaan E-KTP dilakukan di Ruko Fatmawati yang juga dihadiri oleh Irvan. Saat ini Andi Narogong telah menjadi tersangka menyusul dua tersangka Irman dan Sugiharto yang tengah menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor.

Perkuat Bukti

Direktur Goverment Watch Andi Saputra mengatakan, keterlibatan keponakan Novanto, selaku Direktur PT. Murakabi Sejahera semakin menguatkan bukti bahwa sejak awal projek E-KTP memang diduga dikendalikan oleh Novanto. Dengan Novanto memberi pekerjaan pada perusahaan yang dipimpin Irvan Hendra maka memperlihatkan adanya perencanaan yang matang dalam proyek E-KTP.

"Kedekatan hubungan keluarga antara Novanto dengan Irvan menjadi petunjuk bagi Hakim terkait dengan penelusuran sejauh mana peran pengendali proyek E-KTP oleh Setnov," kata Andi.

Andi menuturkan, PT Murakabi belum memiliki pengalaman mengerjakan projek-projek besar berbasis IT maupun security printing. Karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan patungan dengan Andi Narogong yang didirikan berbarengan dengan pekerjaan E-KTP. Sehingga, patut diduga perusahaan tersebut sengaja didesain untuk menampung pekerjaan E-KTP.

"KPK harus mengusut tuntas perkara ini dengan tak segan menindaklanjuti temuan apabila ditemukan bukti kuat keterlibatan Setnov maupun 37 anggota DPR untuk segera menjadikan tersangka. Ini akan menjadi terapi kejut bagi anggota DPR yang mencoba bermain-main dengan anggaran," tegasnya.

Bantah

Novanto membantah menerima uang dari proyek E-KTP, sekaligus membantah ikut mengawal penganggaran pengadaan e-KTP di DPR.

"Ada hiruk pikuk e-KPT karena ada pembagian uang dan Anda bagian orang yang mengawal proyek ini?" tanya ketua majelis hakim Jhon Halasan Butarbutar di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis. "Tidak ada, tidak benar," jawab Novanto.

"Anda yakin tidak terkait dengan bagian uang e-KTP?" tanya hakim Jhon. "Tidak benar," jawab Novanto.

"Saya ingatkan anda sudah bersumpah!" tegas hakim Jhon. "Betul sesuai sumpah saya," jawab Setya Novanto.

Padahal dalam dakwaan yang disusun JPU KPK, Setya Novanto adalah salah satu pihak yang berperan dalam pengadaan e-KTP dengan total anggaran Rp5,95 triliun dan megnakibatkan kerugian hingga Rp2,3 triliun.

Sejumlah peran Setya antara lain adalah ia menghadiri pertemuan di hotel Gran Melia pada 2010 yang dihadiri Irman, Sugiharto, pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong, dan mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini. Dalam pertemuan itu Setya Novanto menyatakan dukungannya dalam pembahasan anggaran proyek penerapan e-KTP.

Selanjutnya pada Juli-Agustus 2010, DPR mulai melakukan pembahasan Rencana APBN 2011, Andi Agustinus beberapa kali bertemu Setnov, Anas Urbaningrum, Nazaruddin karena dianggap representasi Partai Demokrat dan Golkar yang dapat mendorong Komisi II menyetujui e-KTP.
 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats