Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 08 April 2017 13:49 WIB

Tajuk: Menyoal Kinerja Menteri Ekonomi

Sudah beberapa bulan terakhir ini perbincangan soal reshuffle (perombakan) kabinet ramai diperbincangkan para politisi, pengamat dan aktivis. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda Presiden Joko Widodo akan merombak atau mengganti menterinya.

Terkait hal ini, Staf Khusus Presiden Johan Budi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (7/4/2017), menegaskan, sampai saat ini tidak ada perombakan kabinet.  Penegaskan ini setelah Johan menanyakan langsung kepada Presiden. Hal ini untuk memastikan berbagai isu terkait rencana pergantian posisi menteri.

Meski demikian, Johan mengatakan, tidak menutup perombakan bisa saja dilakukan dengan mempertimbangkan hasil evaluasi terhadap kinerja menteri. "Karena saya ngomongnya kan hari ini. Jangankan besok, lima jam kedepan kan enggak tahu kita," kata Johan.  

Presiden sudah menegaskan tidak ada preombakan kabinet, namun berbagai kalangan berpendapat, saat inilah waktu yang tepat untuk melakukan reshuffle. Selain karena konsolidasi politik sudah berlangsung sukses, publik masih melihat adanya sejumlah menteri yang memiliki kinerja buruk, masih mengecewakan, terutama di bidang ekonomi.

Kita semua menaruh harapan agar reshuffle, terutama menteri bidang ekonomi ini dapat membawa perekonomian Indonesia ke arah yang lebih positif. Namun kenyataannya, Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, masih mengecewakan. Keduanya tak mampu juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi 5,5-6 persen seperti yang diinginkan presiden.

Darmin yang telah mengeluarkan 14 paket Kebijakan ekonomi tidak menampakkan hasil yang berarti untuk kemajuan ekonomi Indonesia. Ekonomi kita hanya bertumbuh pada 2015 sebesar 4,79 % ,2016 sebesar 5,02 % dan proyeksi 2017 hanya 5,1 %.  Padahal Presiden menginginkan 5,7 persen.

Menurut para pengamat dan aktivis, hal ini membuktikan bahwa Darmin tidak mampu mengidentifikasi masalah-masalah pokok yang menghambat pertumbuhan ekonomi, tidak mengerti betul masalah dilapangan dan tidak mempunyai kemampuan untuk menggerakkan birokrasi dibawah koordinasi Kemenko termasuk menteri-menteri ekonominya untuk mewujudkan target-target ekonominya.  Artinya kemampuan operasional Darmin sangat lemah.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani juga belum menunjukkan kinerja positif bagi pertumbuhan ekonomi negeri ini. Mulyani memang belakangan masuk kabinet, namun Jokowi yang dahulu berharap banyak kepadanya juga tidak mampu untuk menggerakkan ekonomi secara maksimal, menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, yang  bisa merubah struktur ekonomi menjadi lebih sehat, lebih berkelanjutan, lebih banyak yang menikmati pertumbuhan ekonomi, lebih berdaya saing dan sebagainya.  

Yang terjadi justru sebaliknya, SMI mengerem kegiatan ekonomi dengan memotong APBN-P 2016 sebesar 133,8 triliun rupiah, setelah sebelumnya Menkeu Bambang Brodjonegoro juga telah memotong APBN 2016 sebesar 50 Trilyun atas dasar Inpres 4/2016.  Akibatnya terjadi kelesuan ekonomi dibanyak sektor sedangkan harga-harga kebutuhan pokok melonjak tinggi dan stabil diatas. Ini mengakibatkan beban berat bagi rakyat.

Menteri ekonomi Jokowi sampai saat ini belum melihat siasat dan terobosan-terobosan untuk membuat pertumbuhan ekonomi RI lebih tinggi, misalnya menjadi lebih dari 6%, walaupun ekonomi dunia sedang stagnan. Pertumbuhan lebih tinggi diperlukan agar lebih banyak orang yang bekerja dan agar yang bekerja dapat mempunyai penghasilan yang lebih baik dan akhirnya dapat menciptakan gairah ekonomi.  

Itulah sebebnya, publik berharap reshuffle harus segera dilakukan untuk mendapatkan menteri bidang ekonomi yang memiliki kapasitas, berwawasan dalam mengelola ekonomi negara kita.  Pasalnya, menteri berstandar KW3 ini hanya akan menjadi beban bagi pemerintahan Jokowi-JK. Ujung-ujungnya, rakyat yang menjadi korban.

Kita butuh ekonom yang berwawasan ekonomi luas dan progresif untuk mengelola perekonomian Indonesia agar kita bisa maju dan rakyatnya menikmati kemakmuran.


(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats