Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 13 April 2017 14:03 WIB

Kondisi Novel Baswedan Semakin Membaik

Jakarta, HanTer - "Alhamdulillah semakin membaik," kata abang Novel, Taufik Baswedan yang berada di Singapura ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat pada Kamis (13/4/2017) di Jakarta.

Penyidik senior KPK Novel Baswedan disiram air keras yang diduga dilakukan dua orang pria tidak dikenal di dekat rumahnya, di jalan Deposito depan Masjid Al Ikhsan RT 03/10 Kelapa Gading Jakarta Utara, usai menjalani shalat subuh pada Selasa (11/4) pukul 05.10 WIB.

Akibat kejadian itu, Novel mengalami luka pada bagian wajah dan bengkak pada bagian kelopak mata kiri, sementara pelaku melarikan diri.

Novel lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, kemudian dipindahkan ke RS Jakarta Eye Center (JEC) untuk mendapatkan perawatan intensif. Selanjutnya pada Rabu (12/4) ia diterbangkan ke salah satu rumah sakit di Singapura.

"Saat ini matanya masih bisa melihat walau belum bisa maksimal. Menurut dokter, setelah 2 hari di sini baru ada kabar untuk tindakan yang akan diambil," ungkap Taufik.

Artinya baru pada hari ini dokter akan memutuskan tindakan medis yang akan diterapkan dalam pengobatan Novel.

Menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian jenis larutan air keras yang digunakan oleh pelaku adalah larutan asam sulfat.

"Dari hasil laboratorium forensik, saya mendapat informasi itu H2SO4, tapi mungkin tidak berkonsentrasi pekat karena kalau terlalu pekat itu bisa membuat daging hancur," kata Tito Karnavian di Jakarta, Rabu (12/4).

Larutan asam sulfat merupakan air keras yang biasa digunakan untuk aki. Air keras bila mengenai kulit akan menimbulkan nyeri hebat bahkan dapat menyebabkan kulit menderita luka bakar.

Serangan kepada Novel bukanlah yang pertama kalinya.

Sejak Novel bergabung di KPK pada 2007, ia sudah mengalami beberapa kali ancaman yang membahayakan nyawanya.

Salah satu yang terungkap adalah penyerangan oleh kelompok pendukung Bupati Buol saat itu Amran Batalipu. Kala itu Novel berupaya menangkap Amran pada Juli 2012. Sepeda motor Novel ringsek karena ditabrak para "centeng" bayaran.

"Untung lolos, korbannya sepeda motor ringsek kayak kerupuk, padahal itu motor sewaan," kata salah seorang penyidik KPK.

Tapi penangkapan terhadap Arman tetap berlanjut hingga Amran berhasil dibawa ke Jakarta pada 6 Juli 2012.

Tiga bulan berselang yaitu pada 5 Oktober 2012 datang sejumlah perwira polisi yang mengaku membawa surat perintah penggeledahan dan penangkapan untuk Novel dengan alasan bahwa penyidik tersebut melanggar pasal 351 ayat 2 dan 3 KUHP karena Novel melakukan penganiayaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia saat bertugas sebagai Kepala Satuan Reskrim Polres Bengkulu pada 2004.

Novel saat itu tengah menyidik kasus korupsi pengadaan alat simulasi roda dua dan roda empat di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri. Bahkan Kakorlantas Irjen Pol Djoko Susilo yang menjadi tersangka dalam kasus itu, baru saja menjalani pemeriksaan di KPK pada hari yang sama.

Namun pimpinan KPK saat itu menolak Novel dibawa dan mendorong ratusan aktivis antikorupsi dan mahasiswa pada malam itu datang ke KPK untuk melindungi KPK.

Ternyata kasus tidak berhenti pada 2012, pada 2 Mei 2015, penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) yang dipimpin AKBP Agus Prasetoyono pukul 00.00 WIB mendatangani rumahnya untuk membawa Novel dalam kasus yang sama dan bahkan keluar juga surat perintah penahanan bernomor SP.Han/10/V/2015/Dittipidum yang berisi perintah untuk menempatkan Novel sebagai tersangka di rumah tahanan negara cabang Mako Brimob. Keesokan harinya, Novel dibawa ke Bengkulu untuk melakukan rekonstruksi.

Saat itu KPK sedang mengusut rekneing gendut Polri dan menetapkan Wakil Kepala PolriKomjen Pol Budi Gunawan sebagai penerima gratifikasi pada 13 Januari 2015, meski Novel bukan termasuk tim penyidik yang mengusut kasus tersebut.

Novel memang diketahui pernah menangani kasus-kasus besar seperti suap cek pelawat Miranda Goeltom, suap alokasi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) Wa Ode Nurhayati hingga korupsi Wisma Atlet M. Nazaruddin dan saat ini ia menyidik kasus dugaan korupsi pengadaan KTP elektronk (KTP-E) yang menyeret sejumlah nama besar di dunia politik.

Beragam Teror Namun sesungguhnya bukan hanya Novel yang mengalami teror, sejumlah penyidik KPK lain juga pernah mengalami teror meski skalanya lebih kecil.

"Yang pernah diterima misalnya teror via telepon diancam mau dibunuh, teror via sms, ban mobil ditusuk, teror ancaman bom rakitan, rumah didatangi dan diancam langsung, didukun, dikriminalisasi melalui aparat penegak hukum lain," kata salah seorang penyidik.

Teror ancaman bom rakitan yang ternyata bukan bom itu juga pernah diterima oleh penyidik KPK Afif Julian Miftah yang sempat dikirimi barang yang diduga bom pada Juli 2015 lalu. Afif sebelumnya juga mendapat teror berupa penggembosan ban mobil yang diparkir di depan rumahnya dan penyiraman air keras terhadap mobilnya.

Sedangkan ancaman "didukun" adalah adanya orang yang dianggap dukun mengelilingi gedung KPK sambil membawa kemenyan dan mengucapkan mantra-mantra, meski tidak berdampak pada penyidik atau penyelidik KPK saat itu.

Penyidik KPK pun sesungguhnya sudah dilatih untuk mendeksi orang yang mungkin mengikuti kegiatan mereka.

"Kalau ada ancaman-ancaman seperti itu hal yang paling umum dilakukan adalah mengungsikan keluarga sementara dan melapor atasan," tambah penyidik terseut.

Sehingga teror pun tidak akan berdampak lama pada penanganan kasus.

"Berdampak pada kasus sih iya, tapi cuma sementara. Kecuali seperti kasus 'cicak vs buaya', yang masif sekali sehingga KPK terhambat dan butuh bantuan pemerintah untuk menengahi," ungkap penyidik tersebut.

Para penyidik dan penyelidik KPK pun selalu diingatkan untuk waspada dan jangan meresikokan nyawa. Bila kondisi kurang aman lebih baik mundur sementara untuk menyusun strategi kembali.


(Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats