Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 18 April 2017 11:23 WIB
Cegah Kecurangan Pilkada DKI

Tamasya Almaidah: Ratusan Warga Ciamis Jalan Kaki ke Jakarta

Jakarta, HanTer – Ratusan warga Ciamis, Jawa Barat yang memiliki KTP Jakarta melakukan long march dengan jalan kaki untuk mengikuti Tamasya Al Maidah pada 19 April 2017. Kedatangan mereka untuk mengawal dan menjaga tempat pemungutan suara (TPS)  dari segala kecurangan.

“Sudah jalan 500 orang dan di hari H pun akan datang lebih banyak lagi," kata Ketua Panitia Tamasya Al Maidah Ansufri ID Sambo di Jakarta, Senin (19/4/2017).

Aksi long march warga Ciamis termasuk para santri, pemilik KTP Jakarta itu dikawal KH Nonop Hanafi. “Saya mengantar sekaligus para santrinya yang memiliki KTP Jakarta untuk memilih sekaligus mengawal santrinya untuk bergabung dengan rombongan Tamasya Al Maidah di Jakarta,” ujar Nonop dalam video live streaming yang beredar.

Dalam video itu disebutkan peserta jalan kaki sudah sampai di Kilometer 41. Dalam video yang berdurasi sepanjang 4 menit 31 detik itu, sepanjang jalan para santri mengangkat tangan sambil menunjukkan nomor urut salah satu pasangan calon yang berlaga di Pilkada DKI Jakarta.

Perjalanan Tamasya Al Maidah ini dilakukan, karenanya sebelumnya Wakil Bupati Ciamis Oih Burhanidin justru ke Jakarta untuk membantu kampanye salah satu paslon.

Jaga Kecurangan

Menanggapi Tamasya Al Maidah itu, peneliti senior dari Institute For Strategic and Development Studies (ISDS ), M Aminudin menegaskan, adanya massa dari Ciamis yang merupakan alumni 212 jalan kaki ke Jakarta untuk memantau TPS menunjukkan bahwa Pilgub DKI Jakarta sudah sangat mengkhawatirkan. Apalagi adanya dugaan salah satu paslon berbuat curang untuk bisa duduk kembali di DKI 1.

"Mereka ke Jakarta itu karena kekhawatiran adanya intervensi kekuasaan dan uang dari penguasa dan para taipan untuk memenangkan cagub DKI penista agama," kata Aminudin kepada Harian Terbit, Senin (17/4/2017).

Aminudin menuturkan, mereka datang ke Jakarta juga untuk mengcounter adanya mobilisasi kepala-kepala daerah dan anggota DPRD dari luar Jakarta yang masuk Jakarta oleh tim Ahok - Djarot. Kedatangan pejuang Ciamis juga untuk mengawasi adanya suap pemilih secara massif dan sistematis melalui pembagian sembako dan uang kepada pemilih yang ditukar dengan KTP.

"Ironisnya Bawaslu dan aparat seperti melakukan pembiaran dan aktor intelektualnya tidak segera ditangkap," tegasnya.

Aminudin menuturkan, jika kuat terbukti penyebaran sembako baju kotak-kotak yang meluas itu terkait dengan Ahok maka secara hukum Ahok bisa didiskualifikasi dari ajang Pilgub DKI Jakarta. Namun penegakan hukum terhadap pelanggaran tersebut sampai sekarang belum terlihat aksinya. Sehingga tidak perlu disalahkan jika ada pejuang Ciamis yang alumni 212 datang kembali ke Jakarta.

"Itulah barangkali yang menjadi magnit penyedot alumni 212 dari luar kota ikut hadir di Jakarta untuk memantau Pilgub DKI," jelasnya.

Sementara itu pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo meyayangkan adanya mobilisasi massa itu. Karena urusan keamanan proses pilkada telah dilakukan Polri dan TNI. Dia meminta agar polisi dan TNI untuk tegas terkait adanya mobilisasi massa ke Jakarta. "Saran saya sih Polri dan TNI harus tegas. Keamanan ibukota harga mati," tegasnya.

Karel mengakui, hak setiap orang untuk datang ke Jakarta. Tapi jika hanya membuat kerusuhan maka harus ditindak aparat.
 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats