Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 21 April 2017 11:16 WIB
Kasus Penistaan Agama

Alkatiri: Inilah Sidang Tuntutan Paling Aneh

Jakarta, HanTer - Ketua Umum Advokat Muslim Indonesia, A. Alkatiri mengaku heran dengan proses sidang tuntutan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sebelumnya berlangsung berlarut-larut hingga sampai 18 kali sidang.

"Selama yang saya ketahui, inilah sidang paling aneh," ujar Alkatiri kepada Harian Terbit usai sidang di Auditorium Kementerian Pertanian, Kamis (20/4/2017).

Saat ditanyakan lebih jelas, maksud dari ucapannya terkait sidang paling aneh? Alkatiri menjelaskan sidang tuntutan berjalan layaknya sidang pembacaan pledoi (pembelaan) terhadap Ahok. "Sidang tuntutan kok seperti sidang (agenda) pledoi terdakwa," terangnya.

Ditambahkannya lagi pihak Advokat Muslim akan melaporkan masalah ini ke Komisi Kejaksaan (Komjak). "Masalah ini akan kami laporkan ke Komisi Kejaksaan, dan kami  berharap agar hakim berlaku adil," " beber Alkatiri.

Sementara itu, pengamat hukum dari Universitas Al Azhar Prof Suparji Ahmad merasa sangat prihatin atas tuntutan ringan jaksa terhadap terdakwa penista agama Ahok.

"Sangat memprihatinkankan. Penuh misteri atas tuntutan ringan JPU terhadap Ahok. Sudah terbukti bersalah tapi kok tuntutannya minimal," kata Suparji kepada Harian Terbit, Kamis (20/4/2017).

Suparji menilai, tuntutan ringan terhadap Ahok sangat tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Karena tuntutan ringan tersebut tidak sesuai dengan fakta persidangan. Sebagai penuntut yang profesional harusnya jaksa menuntut maksimal sesuai dengan Pasal 156a KUHP yakni 5 tahun hukuman penjara. Oleh karenanya tuntutan 1 tahun terhadap Ahok ditengarai ada muatan kompromis untuk menjaga kondusifitas Jakarta.

"Harusnya JPU nuntut hukuman 5 tahun karena sesuai dengan fakta persidangan maka unsur Pasal 156a KUHP telah terpenuhi," tegasnya.

Tak Bisa Dicopot

Sementara praktisi hukum Eggi Sudjana menilai, tuntutan 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun yang dituntut jaksa maka hal bermakna Ahok bebas tidak kena hukuman apapun atas perbuatannya menistakan agama. Kecuali jika selama 2 tahun kedepan Ahok melakukan kejahatan yang sama maka baru bisa dihukum yang 1 tahun seperti yang dituntut jaksa.

"Ini sungguh tragedi penegakkan hukum di Indonesia kepada penista agama," ujarnya di Jakarta.

Seperti diketahui JPU menuntut Ahok dengan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun terkait perbuatannya yang menistakan agama. Dengan tuntutan tersebut maka jika Ahok tidak melakukan tindakan serupa selama 2 tahun, maka dia tak akan dipenjara. Tetapi jika Ahok mengulangi perbuatannya, dia akan kena hukuman 1 tahun penjara.

JPU mengatakan, Ahok itu tidak bisa dituntut menggunakan pasal 156a KUHP tentang penistaan agama dengan tuntutan maksimal 5 tahun penjara. Karena pidato terdakwa yang menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 tak memenuhi unsur niat melakukan penghinaan agama.
 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats